Riba secara sederhana dapat diartikan sebagai “pinjaman yang mensyaratkan adanya penambahan saat pengembalian”.

Kebanyakan masyarakat menyebut riba sebagai bunga uang. Hal ini didasari karena secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.

Maka, setiap pinjaman yang menyaratkan atau menetapkan kelebihan saat pengembalian adalah riba.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim MA, pada suatu kesempatan mengisi  pengajian rutin bersama Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Banda Aceh, menyebutkan, berbagai transaksi masyarakat saat ini, termasuk di Aceh, kerap bersentuhan dengan praktik riba.

Tidak hanya terbatas transaksi perbankan nonsyariah, hutang-piutang dan bunga, tetapi termasuk juga dalam perdagangan dengan menaikkan dan menurunkan timbangan, semua adalah bagian dari riba yang merusak keseimbangan hidup.

Doktor Muslim Ibrahim menambahkan, masyarakat selama ini antara sadar dan tidak terus berhubungan dengan perbankan yang menggunakan sistem riba, kredit rumah, kendaraan, serta pinjam meminjam uang dengan menambahkan bunga saat pengembalian.

Menurut Guru Besar UIN Ar-Raniry ini, sumber sebagian besar masalah sosial dan ekonomi dunia hari ini adalah riba. Setiap muslim wajib turut memeranginya.

Masa yang disebutkan Rasulullah itu, kata Muslim Ibrahim adalah gambaran hari ini, dan itu artinya kita semua tengah terlibat dengan riba.

Sebab, di masa ini, seluruh tata kehidupan kita telah bercampur dengan riba.



Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Tak Hanya Bunga Uang, Riba Juga Bisa Berbentuk Bayar Kopi dan Jasa, Begini Kekhawatiran Ulama, https://aceh.tribunnews.com/2018/12/06/tak-hanya-bunga-uang-riba-juga-bisa-berbentuk-bayar-kopi-dan-jasa-begini-kekhawatiran-ulama.
Penulis: Zainal Arifin M Nur
Editor: Zaenal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *