Riba berasal dari bahasa arab yang berarti tambahan (Al-Ziyadah), berkembang (An-Nuwuw), meningkat (Al-Irtifa’), dan membesar (Al-‘uluw).enurut Imam Sarakhzi mendefinisikan riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan (I’wad) yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.Jenis riba ada dua yaitu riba nasi’ah adalah riba yang muncul karena utang piutang. Riba fadhl adalah riba yang muncul karena transaksi pertukaran atau barter.

Riba fadhl dapat terjadi apabila ada kelebihan atau penambahan barang sejenis yang dipertukarkan baik pertukaran yang dilakukan dari tangan ke tangan atau kredit.Riba adalah suatu akad atau transaksi atas barang yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut syariat atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi objek akad atau salah satunya.Adapun pengertian riba menurut beberapa Ulama adalah sebagai berikut :Menurut Mughni Muhtaj oleh Syarbini, riba adalah suatu akad atau transaksi atasbarang yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut syariatatau dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi objek akad atau salahsatunya.Menurut Al-Jurnaini merumuskan definisi riba yaitu kelebihan atau tambahanpembayaran tanpa ada ganti atau imbalan yang disyariatkan dari salah seorang bagidua orang yang membuat akad.5

Menurut Imam Ar-Razi dalam tafsir Al-Qur’an, riba adalah suatu perbuatanmengambil harta kawannya tanpa ganti rugi, sebab orang yang meminjamkan uang1000 rupiah mengganti dengan 2000 rupiah, maka ia mendapat tambahan 1000 rupiahtanpa ganti.Menurut Ijtima Fatwa Ulama Indonesia, riba adalah tambahan tanpa imbalan yangterjadi karena penanggungan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya ataubiasa disebut dengan riba nasi’at.Hukum Riba dalam IslamDalam Islam memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjamanharam.Riba diharamkan dalam keadaan apapun dan dalam bentuk apapun.diharamkan ataspemberian piutang dan juga atas orang yang berhutang darinya dengan memberikan bungabaik yang berhutang itu adalah orang miskin atau orang kaya. Berkaitan dengan haltersebut,hukum riba telah dipertegas dala Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai berikut :

1.Dalam surah al-Baqarah ayat 275, Allah berfirman “orang-orang yang makan(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yangkemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikianitu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu samadengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Rabbnya, lalu terus berhenti (darimengambil riba), maka baginya apa yang telah diambil dahulu (sebelum datanglarangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang-orang yang mengukangi(mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *