Tanya:    Bagaimana pandangan Islam tentang pinjaman uang dari bank syariah untuk membeli mobil? Apakah boleh?

Jawab:    Boleh. Apa bedanya dengan bank konvensional?

Kalau kita datang ke bank konvensional, jika ingin meminjam uang untuk membeli mobil seharga Rp 200 juta, yang harus kita bayar adalah Rp 220 juta. Yang Rp 20 juta itu adalah riba, karena akad antara peminjam dengan bank konvensional adalah ‘uang dengan uang’, dan ‘uang dengan uang’ adalah riba dan haram.

Perbedaannya antara bank konvensional dengan bank syariah adalah pada akadnya. Jika kita ingin meminjam uang untuk membeli mobil seharga Rp 200 juta, bank syariah tidak akan melayani peminjaman uang. Jadi bagaimana? Ilustrasinya adalah sebagai berikut.

Bank syariah:     Bapak meminjam uang untuk apa?

Peminjam:     Saya ingin beli mobil.

Bank syariah:     Kami tidak akan melayani peminjaman uang, karena itu adalah riba. Kami akan membeli kontan mobil itu yang seharga Rp 200 juta, kemudian nanti mobil tersebut dijual dengan cara mencicil.

Akad antara peminjam dengan bank syariah adalah ‘uang dengan barang’, dan ‘uang dengan barang’ itu bukan riba. Silakan buka, www.somadmorocco.blogspot.com, seperti yang sudah saya tulis.

Di zaman nabi, transaksi adalah antara uang dengan barang. Berdasarkan Shahih Bukhari, sahabat nabi ada yang membeli barirah dengan cara mencicil, dan baru lunas setelah 9 tahun.

Meskipun begitu, ada perbedaan pendapat antarulama Saudi Arabia. Menurut fatwa ulama Saudi Arabia, transaksi ‘uang dengan barang’ itu halal. Sedangkan menurut Syeikh Al Bani, transaksi ‘uang dengan barang’ tetap riba jika penambahan.

Sebagian masjid dalam menerima zakat khusus dengan uang, maka amil mengambil beras dan serah terima zakat dengan cara membeli beras. Kalau mau membayar zakat dengan uang, bawalah uang dari rumah. Dan niatkan, aku bayarkan zakatku tahun ini tunai. Kalau mau membayar dengan beras, bawalah beras dari rumah. Dan niatkan, aku bayarkan zakatku tahun ini tunai. Jangan membawa uang dari rumah, lalu membeli beras di masjid, karena berarti akad jual belinya tidak betul. Menjual barang yang tak jelas pemiliknya, akad jual belinya saja tidak sah. [R4/Rin] 

*Disarikan dari konsultasi hukum Islam bersama Ustadz Abdul Somad.

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *