Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Duski Samad, mengatakan, jika hal tersebut dipandang sebagai jual beli maka tidak memenuhi syarat sebab barang yang diperjualbelikan tidak ada.

“Sementara yang dijual malah uang yang seharusnya jadi alat tukar,” kata Duski Samad, Jumat.

Menurut dia jika penyedia jasa penukaran uang berdalih mereka hanya mengambil jasa maka tetap tidak dibenarkan karena pihak berwenang dalam hal ini Bank Indonesia dan perbankan telah menyediakan penukaran secara cuma-cuma.

“Oleh sebab itu pihak yang menyediakan jasa dan menukarkan uang dua-duanya secara hukum kena,” kata dia.

Jika penyedia jasa berdalih mereka telah antre untuk menukarkan uang, justru yang terjadi selama ini panjangnya antrean disebabkan oleh ramainya para calo tersebut.

Ia mengingatkan Islam tidak melarang jual beli barang dan jasa namun tidak dibenarkan mencari keuntungan dengan cara tidak baik.

(baca: Ini Hukum Penukaran Uang Baru)

“Peredaran uang menjadi urusan negara dan sudah ada lembaga resmi yang mengelolanya. Apalagi ini menyangkut kepentingan publik oleh sebab itu kepada masyarakat sebaiknya jangan menggunakan calo dan tukarkan di tempat resmi,” ujar dia.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat menyiapkan uang baru senilai Rp3,4 triliun dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat menyambut Idul Fitri 1438 Hijriah.

“Setiap Lebaran permintaan uang baru di Sumbar terus naik karena ada tradisi manambang, untuk tahun ini kami menyiapkan Rp3,4 triliun dan sudah bisa ditukarkan masyarakat sejak 5 Juni hingga 20 Juni 2017,” kata Kepala BI perwakilan Sumbar, Puji Atmoko.

Ia mengatakan pada tahun ini warga yang hendak menukarkan uang akan dilayani di loket yang disiapkan di halaman kantor parkir BI Sumbar jalan Sudirman bekerja sama dengan perbankan di daerah.

“Masyarakat langsung bisa menukarkan setiap hari kerja dari Senin sampai Kamis pada 8.30 WIB – 13.00 WIB secara cuma-cuma, katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *