Hikmah Bebas Riba

Sore ini Jogja hujan derass sekali. Saya duduk di teras membuka HP, postingan kawan saya di Kendari Arham Rasyid muncul di beranda, membacanya 5 menit membuat hati gerimis tak terkira
Untuk kalian yang sedang berjuang bangkit lagi, ini vitamin penuh energi, bacalah dengan hati

ALLAH hadir di semua sisi hidupmu, mendekatlah palingkan wajahmu..
rengkuh keberkahanNya sepenuh kalbu..
_______________________________

“Say, ada tunggakan yang harus dibayar” bisik istri malam itu sebelum tidur, memberi informasi yang bisa bikin nightmare.
“Berapa?” tanya saya tanpa menoleh, sibuk dengan layar hape.
“Lima juta” jawabnya kalem.
“Cuma lima juta? Hahahahahahahahaaa…kokbaaanyak?” saya bereaksi ala Srimulat, walau sebenarnya cukup tercekat.
Try to find humour in difficult situation, ini kadang cara saya ketika menghadapi persoalan.
Selalu berupaya mecandai istri soal apa saja. Ya apa saja, kecuali soal poligami tentunya.

“Trus, Kapan batas akhir pembayaran?”
“Tiga hari lagi”
“Hmm.. Baiklah, kasih saya kesempatan berpikir ya..” tawar saya kemudian.
“Iya, tapi jangan lama-lama” balasnya sebelum tidur memunggungi saya. Hape saya tetap menyala tapi newsfeed tak lagi mengundang selera.
Malam itu saya mulai konsentrasi dan berpikir keras. Sambil berharap tak berakibat konstipasi atau berhajat keras.
Mengingat tiga hari bukan waktu yang singkat buat saya untuk cari duit segitunya.

Sebagai pedagang, kami hampir tak pernah pegang duit lama, selalu diputar kembali jadi modal usaha.
Tabungan juga sudah punya alokasi masing-masing, sementara di dompet cuma ada Mohammad Husni Thamrin.

Dalam keadaan begini, menyesalkah saya berhenti jadi karyawan yang selalu punya duit simpanan?
Oh, tentu tidak. Inilah dinamika kehidupan. Semua sudah ada jalan.
Ketentraman hati tak bisa ditukar dengan materi. If you get what you want, you will lose what you have.

Jangan pernah sesali yang sudah terlanjur, seperti kata pepatah “Nasir sudah jadi tukang bubur”.
Jangan pula suka menyalahkan sebab atas suatu keputusan, seperti kata lagu “mencari kebab tanpa mencari pak Hasan”

Untunglah dapat istri pengertian. Hampir tak pernah ribut masalah keuangan.
Sebaik-baik istri adalah yang wajahnya tetap bercahaya di tanggal tua, cahaya alami tanpa skincare Korea.
Mohon jangan dicari dalilnya, karena itu cuma karangan saya.
Ya, malam itu dalam kegelapan wajah istri saya memang tampak memancarkan cahaya.
Cukup mengejutkan sebelum saya sadari cahaya itu pantulan dari layar hapenya. Ternyata ia juga tak bisa tidur dengan keresahan yang sama.

Sehari dua hari, belum ada tanda-tanda dan peluang datangnya rejeki. Dikebut pun jualan, tak akan bisa mencapai target hingga deadline.
Kami lalu diskusi dan merancang beberapa opsi, plan A dan plan B. Kalau sekiranya dua-duanya gagal, masih ada alfabet C sampai Z.
Kecuali semua gagal, maka saatnya kita coba plan berikutnya yaitu plan-pelan nangis bareng.

Yang pasti sedapat mungkin jangan sampai ada pilihan ngutang.
Harus ada usaha diiringi doa. Karena kalau cuma ongkang-ongkang kaki lantas jadi duit itu cuma pekerjaan tukang jahit.

Saat cekot-cekot mulai menyerang sirah, tiba-tiba teringat QS az-Zumar: 53, jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Saya tiba-tiba mengajak istri ikut daurah, qadarullah ada ustad yang sedang safari dakwah.

“Ada orderan, say. Orangnya minta diantar sore, jadi ini tidak bisa ditinggal” ujar istri.
“Tinggalkan saja, say” kata saya. “kita close order dulu hari ini, sampaikan maaf, dan bilang saja besok insyaallah dilayani”
Bermuammalah itu sunnah, tapi tholabul ilmi faridhatan ala kulli muslim, batin saya.

Di masjid tempat daurah, belum juga sempurna posisi duduk saya, hape bergetar, saya pun keluar.
“Pak Arham bisa ke rumah? atau saya yang datang ke rumahnya?” tanya suara di seberang sana, suara seorang ibu yang punya tunggakan hutang piutang pada saya.
Jumlahnya tak sedikit tapi sudah lama saya ikhlaskan, karena kita sama-sama korban sebuah kasus penipuan.
“Ada apa, Bu?” respon saya ogah-ogahan, mengingat saya sedang serius mengikuti kajian.
“Saya mau bayar utang, Pak. Tapi mohon maaf kesanggupan saya cuma lima juta”.
Andai bukan orang tua, mungkin saya sudah balas: “bapak kamu tukang CCTV ya? kok bisa tau apa yang tersembunyi di sudut hati saya?” eeeaaa…

Dan demikianlah, pulang dari daurah saya bergegas menjemput rejeki itu ke rumahnya.
Alhamdulillah, QS az-Zumar: 53 tampaknya sudah bekerja.

Akhirul kalam, sekali lagi, jangan pernah berputus asa. Inna ma’al usri yusro’.
Kita adalah hamba dari Dia yang Maha Kuasa, tanamkan itu dalam hati saat merasa tak berdaya.
Kita adalah hamba dari Dia yang Maha Kaya, buatlah diri menjadi yakin agar tak sempat merasa sebagai sobat missqueen.

Percayalah..
Saat kau merasa down, merasa tak semujur orang lain, maka kau akan mudah diprospek jadi downline.

#30hbc1922
#kapansajabercerita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *